Gamelan Jegog Suar Agung
Gamelan Jegog Suar Agung.(Strangeinparadise.com)

Probolinggo, MENTARI.ONLINE– Meski hanya alat musik tersebut menggunakan bambu yang menghasilkan 4 nada saja, alunan suara Jegog Suar Agung ini terdengar lamban dan berombak.

Penampilan  Jegog Suar Agung ini bertujuan mempromosikan pertunjukan musik dan tari Bali. Suar Agung yang paling terkenal dengan musik Jegog, gaya gamelan unik yang dimainkan pada instrumen bambu raksasa hadir di hari ke-2 pagelaran Eksotika Bromo di Probolinggo, Jawa Timur.

Festival Eksotika Bromo 2017 digelar sebelum perayaan Ritual Yadnya Kasada dengan diikuti 250-an seniman dari delapan daerah. Antara lain Gowa, Ponorogo, Lumajang, Jembrana-Denpasar, dan Surabaya. Artis Ayushita dan Ine Febriyanti juga dijadwalkan tampil membacakan puisi.

Sejumlah artis ibu kota juga  dijadwalkan akan tampil di lautan pasir Gunung Bromo untuk membuat hangat suasana, dan saat ini tengah dipersiapkan segala sesuatunya oleh pihak panitia.

Jegog Suar Agung sebaga gamelan khas Bali ini sengaja didatangkan pada event kolosal di lautan pasir Bromo, agar masyarakat Indonesia maupun mancanegara, mengenal budaya dan musik tradisional asli Indonesia.

Dengan background kawah Bromo dan lautan pasir, membuat penampilan Jegog Suar Agung dalam event ini terlihat apik, meski para pengunjung juga harus menikmati debu berterbangan di lautan pasir.

Musik gamelan itu, diiringi dengan tarian Bali disertai pembacaan puisi yang menceritakan kehadiran Suar Agung yang didirikan pada tahun 1971 oleh dua saudara laki-laki I Ketut Suwentra dan almarhum I  Nyoman Jayus  berasal dari Desa Sangkaragung di Kabupaten Jembrana, Bali.

Pemimpinnya saat ini, I Ketut Suwentra saat ini menjadi ketua kelompok gamelan Jegog Suar Agung, satu-satunya gamelan yang hanya ada di Kabupaten Jembrana.

Gamelan Jegog Suar Agung
Gamelan Jegog Suar Agung.(Strangeinparadise.com)

Menurut I Ketut Suwentra, kehadiran Jegog Suar Agung di festival di Bromo telah memukau penonton dengan musikalitas dan teknik gamelan gamelan yang sangat unik ini.

Pada tahun 1975, gamelan ini diperkenakanl di Jepang pada tahun 1975. Lalu pada tahun 1984 dikenal di Tokyo. Ensembel Gamelan khas Bali ini juga pernah tampil di sejumlah negara di Eropa seperti Jerman, Prancis serta Swiss.

“ermasuk pembukaan untuk Piala Dunia antara Prancis dan Brasil pada tahun 1998 silam,” kata I Ketut Suwentra, dilansir dari detikcom, Sabtu (8/7/2017). (meu/pjk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here